LintasFakta.info – Mengapa LaLiga Spanyol Sulit Bersaing dengan English Premier LaLiga Spanyol pernah menjadi kiblat sepak bola dunia ketika nama-nama besar seperti Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi beraksi setiap pekan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pamornya di panggung global terlihat menurun, terutama dalam hal kekuatan finansial. Perbandingan dengan English Premier League (EPL) makin menegaskan jurang yang terbuka lebar antara keduanya.
1. Krisis finansial kembali menghantui LaLiga Spanyol akibat ketatnya aturan finansial
Mengapa LaLiga Spanyol Sulit Bersaing dengan English Premier Pada awal 2000an, sepak bola Spanyol pernah mengalami periode penuh kekacauan saat lebih dari 20 klub masuk dalam proses kebangkrutan dan utang menumpuk hingga ratusan juta pound sterling. Krisis itu muncul lagi ketika Lionel Messi, ikon terbesar LaLiga Spanyol, terpaksa meninggalkan Barcelona pada 2021 karena kendala finansial. Demi menghindari keruntuhan lebih lanjut, LaLiga sejak 2013 menerapkan kerangka kontrol ekonomi yang ketat dengan sistem salary cap dan pengawasan ketat ala Financial Fair Play (FFP) domestik.
2. Distribusi pendapatan yang tak merata membuat klub LaLiga tak mampu belanja besar
Berbanding terbalik dengan LaLiga, Premier League berhasil menciptakan ekosistem keuangan yang jauh lebih merata. Klub promosi di Inggris menerima dana besar sehingga mampu berinvestasi ratusan juta euro, seperti Sunderland yang menghabiskan 200 juta euro (Rp3,855 triliun) pada bursa transfer musim panas 2025 untuk pemain baru. Hal ini membuat persaingan di setiap level kompetisi tetap sengit, bahkan klub papan bawah mampu menarik pemain kelas atas.
3. Efek domino ketatnya aturan finansial, daya saing LaLiga Spanyol di pasar global menurun
Keterbatasan belanja klub LaLiga membuat daya saing mereka menurun di pasar global. Premier League tidak hanya menjual pertandingan, tetapi juga menjual gaya hidup, hiburan, dan distribusi konten internasional yang masif. Klub-klub Inggris mengembangkan model kepemilikan multi-klub, menggandeng private equity, hingga merambah produksi konten dokumenter untuk memperkuat citra merek.
Dampaknya terlihat nyata pada bursa transfer 2025. Pemain berbakat Spanyol lebih memilih pindah ke Inggris karena tawaran gaji dan prospek lebih baik. Crystal Palace, misalnya, mampu membeli bintang muda Getafe, sedangkan klub promosi Inggris seperti Sunderland bisa menghabiskan dana 200 juta euro. Meski Real Madrid dan Barcelona tetap punya daya tarik historis, kolektivitas LaLiga sebagai liga top kian dipertanyakan.