LintasFakta.Info – Film Pelangi di Mars hadir sebagai karya terbaru dari Mahakarya Pictures & MBK. Film ini mengusung genre sci-fi (fiksi ilmiah) yang dipadukan dengan drama keluarga. Sejak awal, film ini menyajikan cerita ringan dengan visual futuristik dan emosi yang kuat.
Selain itu, film ini mengajak penonton menikmati kisah persahabatan, ketangguhan, serta harapan akan masa depan yang lebih baik.
Upie Guava Tekankan Nilai Kemanusiaan
Sutradara Upie Guava menegaskan bahwa Pelangi di Mars tidak hanya menampilkan efek visual. Ia secara sadar menonjolkan nilai kemanusiaan dalam setiap adegan.
“Pelangi bertemu para robot yang awalnya tidak saling akur. Perbedaan memicu konflik. Namun, keluguan Pelangi perlahan menyatukan mereka,” ujar Upie Guava, Rabu (26/11/2025).
Cerita Berlatar Tahun 2090
Sementara itu, cerita film Pelangi di Mars berlatar tahun 2090. Pada masa tersebut, krisis air melanda Bumi secara besar-besaran.
Cerita mengikuti Pelangi (Messi Gusti), seorang gadis berusia 12 tahun. Ia menjadi manusia pertama yang lahir dan tumbuh di planet Mars.
Di sisi lain, Pelangi harus menjalani hidup seorang diri setelah ibunya, Pratiwi (Lutesha), meninggalkan Mars bersama koloni manusia.
Petualangan Bersama Robot Rusak

Selanjutnya, Pelangi mengakhiri kesepiannya saat ia menemukan sekelompok robot rusak yang telah lama terbengkalai. Setiap robot memiliki karakter dan keunikan berbeda.
Tak hanya itu, Pelangi mengajak para robot memulai perjalanan berbahaya. Mereka berusaha menemukan Zeolith Omega, mineral langka yang mampu memurnikan air di Bumi.
Dengan demikian, perjalanan tersebut menjadi harapan terakhir bagi umat manusia.
Kolaborasi Manusia dan Mesin

Lebih jauh, karakter Pelangi mencerminkan keberanian anak-anak dan semangat kolaborasi. Film ini menegaskan pentingnya kerja sama antara manusia dan mesin.
Film ini dibintangi oleh Messi Gusti, Lutesha, Rio Dewanto, Livy Renata, dan Myesha Lin Adeeva.
Teknologi XR Perkuat Visual Film

Sementara itu, aktor Rio Dewanto menjelaskan bahwa tim produksi menggunakan teknologi Extended Reality (XR) selama proses syuting.
“Teknologi XR membantu aktor memahami suasana lokasi. Proses syuting terasa lebih nyata dan menyenangkan,” kata Rio Dewanto.
Film Sci-Fi Indonesia yang Mudah Dinikmati
Pada akhirnya, Pelangi di Mars hadir sebagai film sci-fi Indonesia yang mudah dipahami berbagai kalangan. Film ini tidak hanya menyuguhkan hiburan, tetapi juga menyampaikan pesan tentang empati, persahabatan, dan harapan masa depan.